Berprestasi ditengah keterbatasan (Agung Bakhtiyar)

Betulkah anak yang lahir dari keluarga miskin tidak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu? Betulkah mereka tidak berhak untuk menggapai sukses dalam kehidupan mereka?
Hari ini saya mengajak Anda untuk bersama-sama mengikuti kisah anak-anak dari keluarga miskin yang mampu meraih prestasi membanggakan, bahkan mengharumkan nama bangsa Indonesia.


Kisah pertama datang dari Papua. Empat anak Papua yaitu Albertina Beanal (12), Demira Yikwa (11), Kohoin Marandey (12) dan Christian Murid (12) berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia . Albertina,Demira dan Kohoin Marandey berhasil menciptakan dan memenangkan lomba sains dan matematika di Jakarta baru-baru ini. Mereka menciptakan Robot Pendeteksi Tsunami. Sementara Christian Murid meraih medali emas pada lomba matematika dan sains tingkat SD se-Asia. Padahal keempat anak itu awalnya adalah anak yang tinggal di pedalaman Papua dan dipilih karena dianggap paling bodoh. Namun, setelah dilatih dan belajar tekun dibawah pengawasan Profesor Yohanes Surya mereka berhasil mengerti tentang fisika dan matematika. Padahal ketika datang ke Jakarta pertama kali mereka tidak bisa berhitung.

Sementara bagi Gusnadi Wiyoga (15), kondisi perekonomian orangtua yang kekurangan tidak membuatnya patah semangat untuk berprestasi. Gusnadi yang saat ini bersekolah di SMA Taruna Nusantara Magelang, adalah anak seorang tukang sol sepatu. Sejak duduk di bangku SD, Gusnadi memang sudah tergolong encer otaknya, terutama di bidang fisika dan matematika. Bahkan dia sudah mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi matematika dan fisika, baik di tingkat nasional dan internasional. Gusnadi berhasil menyabet medali emas pada lomba sains dan mathematic di Jakarta pada 2007. Pada 2009 meraih medali perak di Filipina.

Sementara olokan teman-temanya yang mengatakan ia hanya punya satu tangan ternyata memacu dia untuk giat belajar. Walau ayahnya yang hanya seorang guru SD dan Ibunya seorang tukang jahit, malah melecut seorang Lutfi Mu’awan (18) untuk tekun belajar.

Lutfi yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah itu adalah peraih medali perak di International Conference of Young Scientist di Rusia bulan April lalu. Prestasi Lutfi itu menambah deretan penghargaan dan medali yang telah ia raih baik di ajang olimpiade sains  baik yang digelar di dalam dan luar negeri. Lutfi yang tangan kirinya memakai tangan palsu itu kini tengah menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung.
Dan, apa yang dialami Agung Bakhtiyar (24) ini mungkin tergolong luar biasa. Pemuda asal Yogyakarta itu berhasil meraih gelar dokter dari Universitas Gajah Mada. Yang membuat Agung tergolong istimewa adalah karena ia bukan anak orang berada. Ayah Agung, Suyatno adalah seorang penarik becak. Sedangkan ibunya, Saniya adalah pedagang rongsokan, atau barang-barang bekas. Agung yang kini mengabdi di RSUD Wates Yogyakarta mengaku, semasa kuliah adalah masa penuh perjuangan dan penderitaan. “Saya sering menyalin buku-buku itu dengan tulisan tangan. Juga saya meminjam laptop teman untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah,” ujar Agung yang mengaku terpaksa melakukan itu karena tidak punya uang.

Apa yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia yang tidak mampu itu tentu sangat membanggakan. Melalui kisah perjuangan anak-anak di atas semakin membuat kita yakin, bahwa tidak betul anak orang miskin tidak bisa dan tidak berhak bersekolah yang lebih baik. Yang ada adalah, mereka belum mendapatkan kesempatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s