Berprestasi ditengah keterbatasan (Agung Bakhtiyar)

Betulkah anak yang lahir dari keluarga miskin tidak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu? Betulkah mereka tidak berhak untuk menggapai sukses dalam kehidupan mereka?
Hari ini saya mengajak Anda untuk bersama-sama mengikuti kisah anak-anak dari keluarga miskin yang mampu meraih prestasi membanggakan, bahkan mengharumkan nama bangsa Indonesia.


Kisah pertama datang dari Papua. Empat anak Papua yaitu Albertina Beanal (12), Demira Yikwa (11), Kohoin Marandey (12) dan Christian Murid (12) berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia . Albertina,Demira dan Kohoin Marandey berhasil menciptakan dan memenangkan lomba sains dan matematika di Jakarta baru-baru ini. Mereka menciptakan Robot Pendeteksi Tsunami. Sementara Christian Murid meraih medali emas pada lomba matematika dan sains tingkat SD se-Asia. Padahal keempat anak itu awalnya adalah anak yang tinggal di pedalaman Papua dan dipilih karena dianggap paling bodoh. Namun, setelah dilatih dan belajar tekun dibawah pengawasan Profesor Yohanes Surya mereka berhasil mengerti tentang fisika dan matematika. Padahal ketika datang ke Jakarta pertama kali mereka tidak bisa berhitung.

Sementara bagi Gusnadi Wiyoga (15), kondisi perekonomian orangtua yang kekurangan tidak membuatnya patah semangat untuk berprestasi. Gusnadi yang saat ini bersekolah di SMA Taruna Nusantara Magelang, adalah anak seorang tukang sol sepatu. Sejak duduk di bangku SD, Gusnadi memang sudah tergolong encer otaknya, terutama di bidang fisika dan matematika. Bahkan dia sudah mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi matematika dan fisika, baik di tingkat nasional dan internasional. Gusnadi berhasil menyabet medali emas pada lomba sains dan mathematic di Jakarta pada 2007. Pada 2009 meraih medali perak di Filipina.

Sementara olokan teman-temanya yang mengatakan ia hanya punya satu tangan ternyata memacu dia untuk giat belajar. Walau ayahnya yang hanya seorang guru SD dan Ibunya seorang tukang jahit, malah melecut seorang Lutfi Mu’awan (18) untuk tekun belajar.

Lutfi yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah itu adalah peraih medali perak di International Conference of Young Scientist di Rusia bulan April lalu. Prestasi Lutfi itu menambah deretan penghargaan dan medali yang telah ia raih baik di ajang olimpiade sains  baik yang digelar di dalam dan luar negeri. Lutfi yang tangan kirinya memakai tangan palsu itu kini tengah menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung.
Dan, apa yang dialami Agung Bakhtiyar (24) ini mungkin tergolong luar biasa. Pemuda asal Yogyakarta itu berhasil meraih gelar dokter dari Universitas Gajah Mada. Yang membuat Agung tergolong istimewa adalah karena ia bukan anak orang berada. Ayah Agung, Suyatno adalah seorang penarik becak. Sedangkan ibunya, Saniya adalah pedagang rongsokan, atau barang-barang bekas. Agung yang kini mengabdi di RSUD Wates Yogyakarta mengaku, semasa kuliah adalah masa penuh perjuangan dan penderitaan. “Saya sering menyalin buku-buku itu dengan tulisan tangan. Juga saya meminjam laptop teman untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah,” ujar Agung yang mengaku terpaksa melakukan itu karena tidak punya uang.

Apa yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia yang tidak mampu itu tentu sangat membanggakan. Melalui kisah perjuangan anak-anak di atas semakin membuat kita yakin, bahwa tidak betul anak orang miskin tidak bisa dan tidak berhak bersekolah yang lebih baik. Yang ada adalah, mereka belum mendapatkan kesempatan.

Advertisements

Sumber-sumber inspirasi menulis

hari  ini saya mencoba mengurai sumber-sumber inspirasi menulis. Adapun tujuan saya menulis artikel ini adalah untuk membakar semangat Anda agar produktif dalam menulis. Anda akan bersemangat menulis jika Anda memiliki inspirasi. Dan menurut saya, sumber inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Nah, Anda mau tahu, delapan sumber inspirasi menulis menurut saya? Cekidot, cekidot!

1. Pengamatan. Terkadang saya mengamati hal sampai sedetil-detilnya, mengingatnya dalam pikiran mengenai hal-hal yang aneh dan jarang diperhatikan orang. Ini gaya tulisan yang saya suka, karena saya merasa bisa masuk ke dalam ruang dan waktu di mana saya berada pada tempat tersebut.

Menurut ahli bahasa, jenis tulisan ini adalah tulisan deskriptif. Satu contoh, saya akan mendeskripsikan hasil pengamatan tentang seorang wanita Bangladesh ketika saya sedang bertugas di Dhaka.

Wanita itu memakai anting-anting di hidung dan di kedua telinga. Ia berbaju dan berselendang merah. Rambutnya habis di-blow dari salon. Kulitnya hitam eksotis. Matanya bulat seperti bola pingpong yang sedang ingin dipukul. Sepatunya hitam hak tinggi setinggi botol minuman air mineral kemasan 250ml.

Beberapa menit kemudian, wanita itu berjalan menghampiri mobil Toyota mirip kijang dan ber-plat nomor aksara Bangla yang saya sendiri tidak tahu bagaimana cara bacanya. Di mobil itu ada seorang lelaki yang saya duga sebagai sopir pribadinya bersiap memegang kendali membawa sang wanita bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain.

2. Foto. Ada yang bilang satu gambar bisa mengungkapkan seribu kata. Saya setuju. Saya pikir dari sebuah foto, saya bisa mengarang cerita dengan sesuka hati.

3. Membaca Buku/Koran/Majalah/situs berita/forum. Dengan membaca, Anda bisa menemukan inspirasi tulisan baru. Pilihlah bahan bacaan kesukaan Anda tentunya.

4. Lagu. Dari sebuah lagu Anda bisa mendalami isi lagu itu dan menuliskannya ke dalam paragraf.

5. Jalan-jalan. Inspirasi kelima ini ada hubungannya dengan inspirasi nomor 1 dan 2. Jika Anda suka jalan-jalan, pastikan Anda juga mengamati dan memotret objek-objek pemandangan agar bisa jadi bahan tulisan.

6. Pengalaman pribadi. Hmm… ini saya harus hati-hati. Pengalaman pribadi ada yang layak dibagi ada yang tidak. Kalau semua pengalaman pribadi diceritakan, tidak ada lagi yang namanya pribadi, dong. Bahasa Inggrisnya saja “private”… he he. Saya cenderung bergairah menulis ketika mengalami pengalaman pribadi yang lucu dan konyol, seperti kejadian matinya shower ketika mandi pakai sabun, masih ada busa2 sabun menempel di badan sebelum sempat dibilas.

7. Sejarah. Terus terang saya suka sejarah. Menurut saya sejarah itu sangat menarik untuk dipelajari dan disimak. Karena dari sejarah Anda bisa belajar dari kesalahan, kekurangan, bahkan kelebihan masa lalu. Tergantung kita, mau mengulangi sejarah yang mana.

8. Ngobrol, Denger, Rasa. Ngobrollah dengan orang yang bisa dipercaya sebagai nara sumber untuk bahan tulisan Anda. Dengarkan baik-baik obrolannya. Kalau perlu rasakan setiap ceritanya.

Jangan plagiat lagi, ya. Selamat menulis.

by : http://arikuncoro.com/delapan-sumber-inspirasi-menulis/

Kisah Sahabat

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan. setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

 

“Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?”

 

“Ya, Bapa Pendeta!”

 

Balas Andy dengan senyumannya yang menyentuh hati Pendeta tersebut. Pendeta tersebut begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut,

“jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang kerumah dengan selamat.”

 

“Terima kasih, Bapa Pendeta.”

 

“Kenapa kamu tidak pulang sekarang ?? apakah kamu ingin tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”

 

“Aku hanya ingin menyapa Tuhan…..sahabatku. Bolehkan Bapak Pendeta?”

 

“oh …. boleh….boleh…. Silahkan Andy.”

 

Mendengar perkataan Andy, Pendeta Agathon segera masuk keruangannya. Tetapi karena penasaran terhadap apa yang akan dilakukan Andy, Pendeta itu pun bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Tuhan, sahabatnya itu.

 

“Tuhan, Engkau tahu, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencotek. Aku mengerjakan semua soal itu semampuku.”

 

“Tuhan hari ini aku belum makan, dan yang masuk ke perut ku hanyalah air yang aku bawa dari rumah. soalnya tahun ini, Ayahku mengalami musim paceklik dan di rumah tidak ada makanan yang bisa ku bawa…Terimakasih Tuhan, buat air yang masih Engkau berikan buat aku hari ini!”

 

“Tuhan, Engkau pasti melihat selopku. Ini adalah selop yang terakhir. Bulan yang akan datang, aku mungkin harus berjalan tanpa alas kaki. Saya yakin, Engkau pasti tahu, bahwa sebentar lagi selopku ini akan rusak, tapi tidak apa-apa … paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.”

 

“Ya Tuhan, orang-orang berbicara bahwa desa kami akan mengalami musim panen yang susah, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah … Tuhan tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi …. Tolong mereka Ya Tuhan!!!”

 

” oh ya, Tuhan, Engkau pasti tahu hari ini ibuku memukul ku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi sakit ini akan segera hilang. Paling tidak dengan kejadian ini, aku diingatkan bahwa aku masih punya seorang ibu…..Tuhan, apakah Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini…. disini….. aku rasa Engkau tahu yang ini khan….??? Tolong jangan marahi ibuku ya…??? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku… Itulah mengapa dia memukul aku.”

 

“Tuhan aku bersyukur, karena aku selalu tahu Engkau tetap menyukaiku. Karena selama ini, aku tidak usah menjadi siapapun untuk menyenangkan Mu. Engkau adalah sahabatku yang sejati.”

 

“Wah..Tuhan, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, hadiah yang akan aku persembahkan untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau sabar menunggunya. Memang nilainya tidak seberapa, tetapi hadiah ini merupakan hadiah terbaik yang bisa aku berikan. Karena itu aku berharap Engkau akan menyukainya.”

 

“Ooops… Tuhan, sekarang hari sudah siang, aku harus pergi, sampai bertemu lagi besok hari.”

kegiatan tersebut terus berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun, untuk menyapa sahabatnya dan menyampaikan semua isi hatinya kepada sahabatnya.

 

Pada hari Natal, karena kelelahan, Pendeta Agathon jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin Gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 orang majelis yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala seuatu yang orang lain perbuat. Mereka senang sekali mengkritik apapun yang dilakukan orang.

 

Hari itu, setelah selesai ibadah natal, mereka berlutut di depan altar gereja, untuk berdoa. Tiba-tiba, Andy yang baru selesai menghadiri ibadah natal disekolahnya masuk dengan antusias dan menyapa,

“Halo Tuhan………Aku………”

 

“Kurang ajar kamu bocah!!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa???!!! Keluar.!!!”

 

Andy begitu terkejut,

 

“Dimana Bapak Pendeta Agathon.??? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan , ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya…”

 

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. sambil berkata :

“Keluarlah bocah…!!!”

 

Andy pun segera keluar meninggalkan Gereja. Ia begitu sediih. Karena di hari ulang tahun sahabatnya, ia tidak bisa menyapa dan memebri hadiah. Dengan wajah tertunduk, Andy berjalan sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut.

 

Dia mulai menyeberang, ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang. Andy berusaha melindungi hadiah untuk Tuhan sahabatnya, di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak bisa menghindari bus tersebut. Waktunya terlalu singkat…. dan selanjutnya terdengar suara, “Brukk…” Andy tewas seketika.

Orang-orang yang berada di pinggiran jalan, berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang yang sudah tak bernyawa.

 

Tiba-tiba, entah muncul darimana, seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia terus menangis, sambil terus bergumam, “Oh…,sahabat kecilKu. Mulai hari ini engkau tidak perlu lagi datang ke gereja untuk bercakap-cakap dengan aku. Karena sejak saat ini, engkau akan selalu berada disampingKu. Dan Aku tidak akan pernah meninggalkan engkau.”

 

~The End~

Inspirasi Mengampuni

Jangan digenggam terus kacangnya

 

Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika, caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika

 

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tanganya terjebak di dalam botol. Kok bisa ??? tentu kita sudah tahu jawabannya.

 

Monyet-monyet itu tertarik oada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. “Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak”  Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi kemana-mana!

 

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Namun, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita menggenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet menggenggam kacang.

 

Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke manapun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

 

Teman, sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua “rasa tidak enak” terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum.

 

Jadi, kenapa kita genggam juga perasaan tidak enak itu ???

 

“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati memadamkan semangat”

Kisah Inspirasi

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

 

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

 

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

 

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

 

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

 

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

 

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

 

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

 

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

 

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

 

�Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.� Katanya menjelaskan dengan lembut.

 

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. �Apalagi??�

 

�Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?� tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena �musuh�ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

 

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

 

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, �selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?� kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

 

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

 

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

 

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

 

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

 

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

 

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

 

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

 

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

 

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

 

Istriku Liliana tersayang,

 

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

 

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

 

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

 

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

 

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

 

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

 

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

 

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, �Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?�

 

Aku merangkulnya sambil berkata �Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.�

 

Putriku menatapku, �seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?�

 

Aku menggeleng, �bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.�

 

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus